Masih percaya kalau kulit kering harus menjauh dari exfoliasi? Banyak yang berpikir demikian, padahal justru sel-sel mati menumpuk membuat pelembap kesulitan meresap. Lactic acid hadir sebagai jawaban yang lembut—menghapus kekusaman tanpa mengorbankan kelembapan alami kulit.

Mengapa Kulit Kering Butuh Exfoliasi yang Tepat

Kulit kering bukan berarti bebas dari sel-sel mati. Justru sebaliknya, proses pergantian selnya lebih lambat, sehingga lapisan tumpukan semakin tebal. Hasilnya? Permukaan kasar, tampak kusam, dan produk skincare terasa “mandek” di permukaan.

Exfoliasi manual seperti scrub berbahan kasar justru bisa mencabik barrier kulit. Solusinya adalah chemical exfoliant yang bisa melarutkan ikatan sel mati tanpa gesekan fisik—dan lactic acid termasuk yang paling ramah untuk kondisi ini.

Apa Itu Lactic Acid dan Mengapa Istimewa untuk Kulit Kering

Lactic acid adalah AHA (Alpha Hydroxy Acid) yang berasal dari fermentasi susu. Meski nama dan asalnya terdengar sederhana, kemampuannya luar biasa dalam menarik dan mengikat molekul air ke kulit. Sifat humectant inilah yang membedakannya dari exfoliator AHA lain seperti glycolic acid.

Molekulnya yang lebih besar berarti penetrasi lebih lambat, sehingga iritasi lebih kecil. Kulit kering yang mudan merah atau terbakar mendapatkan proses resurfacing yang nyaman tanpa rasa “terpaksa”.

Manfaat Lactic Acid yang Jarang Dibicarakan

Beyond exfoliasi, lactic acid punya keahlian tersembunyi. Pertama, ia merangsang produksi ceramide—lemak alami yang menjadi bata bangunan barrier kulit. Kulit kering sering kekurangan ceramide, sehingga ini seperti menyuntikkan kekuatan pertahanan dari dalam.

Kedua, ia membantu meratakan skin tone dengan menghambat enzim tirosinase secara halus. Flek hitam bekas jerawat atau noda akibat sinar matahari perlahan pudar tanpa penggunaan bahan keras.

Baca:  Review Azelaic Acid Untuk Rosacea Dan Bekas Jerawat Merah (Pie): Worth It?

Ketiga, lactic acid membantu mengurangi fine lines dengan merangsang kolagen. Efeknya memang tidak seinstan retinoid, tapi untuk pemula atau kulit sensitif, ini adalah gerbang aman menuju anti-aging.

Cara Memilih Konsentrasi yang Tepat

Mulai pelan adalah kuncinya. Tidak ada gunanya langsung loncat ke konsentrasi tinggi demi hasil instan.

KonsentrasiUntuk SiapaFrekuensi AwalCatatan Penting
5% atau kurangPemula, kulit sangat kering & sensitif2x semingguBiasanya dalam toner atau essence
5-8%Pernah pakai AHA ringan3x semingguIdeal untuk produk serum
10%Kulit sudah terbiasaSeminggu sekaliJangan dipakai bersama retinoid

Ritual Aman: Cara Memasukkan Lactic Acid ke Rutinitas

Tidak ada formula baku yang cocok untuk semua, tapi ada kerangka aman yang bisa diikuti. Poin terpenting: gunakan di malam hari dan jangan lupa sunscreen di pagi hari.

  1. Bersihkan wajah dengan gentle cleanser tanpa SLS. Pastikan kulit benar-benar kering sebelum aplikasi.
  2. Tunggu 5-10 menit setelah mencuci. Kulit yang sedikit basah bisa meningkatkan penetrasi dan risiko iritasi.
  3. Aplikasikan lactic acid pada seluruh wajah, hindari area mata dan bibir. Gunakan jari yang bersih, tidak perlu kapas.
  4. Tunggu 15-20 menit. Biarkan bekerja sempurna sebelum melanjutkan ke produk lain.
  5. Lanjutkan dengan pelembap yang kaya akan ceramide, cholesterol, dan fatty acid. Ini disebut moisture sandwich.

Jika kulit terasa perih atau kemerahan berlebihan, bukan tanda “bekerja”. Itu tanda kewalahan. Kurangi frekuensi atau turunkan konsentrasi.

Kombinasi Bahan yang Harus Dihindari

Lactic acid memang lembut, tapi bukan berarti bisa dicampur seenaknya. Beberapa kombinasi bisa membuat barrier jebol total.

  • Retinoid (retinol, tretinoin): Keduanya mempercepat turnover sel. Pakai di malam yang berbeda. Minimal 24 jam jeda.
  • Vitamin C (asam askorbat murni): pH rendah keduanya bisa membuat kulit terbakar. Pilih salah satu di pagi hari, yang lainnya malam.
  • Other AHA/BHA: Jangan gunakan bersama glycolic, salicylic, atau mandelic di ritual yang sama.
Baca:  Penyebab Jerawat On-Off Meski Sudah Pakai Skincare Rutin (Cek Kandungan Ini)

Sebaliknya, lactic acid sangat bahagia dipasangkan dengan hyaluronic acid, niacinamide, dan centella asiatica.

Perhatian: Jika kulit sedang mengalami rosacea flare-up, eczema aktif, atau retinoid dermatitis, tunda penggunaan lactic acid sampai kondisi membaik.

Rekomendasi Produk untuk Berbagai Budget

Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk memulai. Yang penting, pilih formula yang tidak mengandung alkohol denat atau wangi yang terlalu kuat.

Untuk pemula, The Ordinary Lactic Acid 5% + HA adalah titik masuk yang sempurna. Harganya terjangkau, formula sederhana, dan sudah ada hyaluronic acid sebagai pendamping. Texturenya watery, cepat meresap, dan tidak lengket.

Jika kulit sangat kering dan butuh ekstra nutrisi, Good Genes All-In-One Lactic Acid Treatment dari Sunday Riley punya konsentrasi 5% dengan tambahan licorice root untuk mencerahkan. Harganya premium, tapi banyak yang bilang hasilnya terasa lebih cepat.

Untuk pilihan lokal, Wardah Renew You AHA Lactic Acid Essence dengan konsentrasi sekitar 3-4% menjadi gateaway yang aman. Tersedia di apotek, harganya ramah di kantong, dan sudah teruji secara dermatologis.

Tanda Kulitmu Butuh Istirahat

Lebih sering tidak berarti lebih baik. Kulit yang kering punya batas toleransi yang lebih rendah. Berhenti sejenak jika muncul:

  • Kemerahan persisten yang tidak hilang dalam 30 menit
  • Kulit terasa “ketarik” terus menerus meski sudah pakai pelembap
  • Muncul rasa gatal atau sensasi terbakar
  • Permukaan kulit terlihat mengilap seperti kaca (tanda over-exfoliated)

Istirahatkan selama 3-5 hari. Fokus pada pelembap dan barrier repair cream dengan kandungan petrolatum atau squalane. Baru mulai lagi dengan frekuensi lebih jarang.

Kesimpulan

Lactic acid bukan sekadar exfoliator. Dia adalah pelembap pintar yang membersihkan jalan agar skincare lain bekerja lebih efektif. Untuk kulit kering, dia seperti mentor yang sabar—mengajarkan kulit untuk regenerasi tanpa paksa.

Mulai dari konsentrasi terendah, dengarkan bahasa kulitmu, dan jangan lupa tabir surya setiap pagi. Hasil yang nyaman dan berkelanjutan selalu lebih baik dari kilatan instan yang menyakitkan.

Kalau masih ragu, konsultasi ke board-certified dermatologist untuk rekomendasi yang lebih personal. Kulitmu, keputusanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cara Menggunakan Benzoyl Peroxide Agar Tidak Membuat Kulit Mengelupas

Kulit mengelupas setelah pakai benzoyl peroxide memang jadi pengalaman umum yang bikin…

Review Salicylic Acid (Bha) Untuk Jerawat Batu: Ampuh Atau Malah Bikin Kering?

Jerawat batu yang membandel di dagu atau pipi sering bikin frustasi. Kalau…

Skincare Routine Aman Untuk Fungal Acne: Daftar Bahan Aktif Yang Harus Dihindari

Fungal acne sering jadi mimpi buruk yang sulit dibedakan dari jerawat biasa.…

Tanda Over-Exfoliation: Cara Mengatasi Skin Barrier Rusak Akibat Aha Bha

Pernah bangun pagi, cermin, dan kulit terasa begitu ‘tipis’ sampai nyeri? Bukan…